Penari dan menari di depan bule merupakan kebanggan bagi penari di Bali. Mereka tak perlu punya pastport dan visa untuk menari keluar negeri. Bulenya yang datang sendiri kemari. Menarinya bisa didepan bule yang sengaja datang untuk menonton, atau menari di depan bule yang berada di panggung. Menari jegog misalnya harus datang jauh dari Jembaran menempuh 120 km untuk menari di hotel Bali Mirage di tanjung Benoa. Mereka menyebutnya sebagai perjalanan budaya.Dengan truk terbuka penari dan peralatannya diangkut terseok menempuh jarak sejauh itu selama 2 jam lebih. Sampai di tempat mereka langsung dengan sigap ganti kostum. Mereka menari ketika bule mulai menyeruput soup asparagus. Selagi penari sedari pagi hanya makan angin atau sekedar lemper dan roti isi kacang ijo.
Turis mulai mencabik steak, penari pertama berupa tarian manuk wawa dengan iringan gambelan bambu mulai melenggok. Mereka lirik kanan kira sambilmengibaskan sampiran atau selendang putih. Gelungan dikepala terasa berat karena mereka menari dalam keadaanperut lapat
Ketika bule mulai menyeruput kopi dan es krim tanda hidangan akhir atau desertnya penari menghampiri mereka yang telah meletakkan serbet dan garpunya. Mereka mengajak mereka ke panggung untuk berjoget bersama. Turis senang penari meriang dan calo gembira karena bersiap untuk mengambil amplop komisi.
Pementasan berakhir dengan seluruh penari dan penabuh berdiri di depanpenonton untuk mendapatkan applaus terakhir. Bule senang karena mendapatkan pengalaman tak terlupakan. Calo menghitung untungnya, sedangkan penari berkemas bergegas ke belakang panggung untuk menghapur rias wajah yang membuat mereka bak raja dan ratu dalam satu jam. Bersiap kembali naik truk ke kampungnya yang jauh di Jembrana. Begitu terus selama berbulan bulan sepanjang tahun sampai sekarang ini sudah 10 tahun lamanya mereka menari dengan cara begituan.
Tebal: 105 hal.
Harga: Rp 35.000
Pesanan: w.budiartha@gmail.com
No comments:
Post a Comment