Wednesday, June 22, 2011

GIGOLO BALI



Istilah ini muncul sejak bule pertama kali datang ke Bali di tahun 70an. Kala itu kita dengan mudah menemukan pasangan lain warna kulit berkeliaran di pantai Kuta. Jaman hippeis namanya. Mereka memang memanjakan bebas sex dan segala macam ganja heroin dan asis. Beberapa kemudian kawin kemawin dan sekarang anaknya menjadi indo indi yang manis manis. Kemudian di tahun 80an gigolo yang hadir di kawasan Kuta lebih terhormat, mereka lebih perlente dan ganteng ganteng. Modalnyapun bukan lagi sandal jepit dan kaos belel, tapi sudah menggunakan parfum.

Tahun 90an gigolo sempat keder karena merebaknya AIDS, mereka tiarap karena takut mati konyol hanya karena mabuk kepayang pada bule bulukan. Waktu itu kita tak bisa menemukan bule yang berpasangan dengan gigolo lokal. Sampai kemudian di tahun 2000an ketika dokumentar seputar Cowboys In Paradise beredar dan penduduk Kuta marah besar sampai mensweeping seluruh gigolo yang ada di pantai berpasir putih tersebut, alasannya kehadiran mereka mencemarkan nama baik Bali.

Padahal dibawah tanah gigolo tetap eksis, mereka bersembunyi dibalik persewaan payung meja dan dagang minuman dingin. Untuk yang kelas pemula taripnya hanya Rp 100.000 semalaman. Sedangkan yang sudah lihai main silatnya tarip bisa mencapai Rp 500.000 semalamnya. Benny, Charles, Muluk adalah tidak dedengkot gigolo di pantai Kuta.

Dia tidak lagi berburu, tapi pesanan yang datang bertubi tubi. Benny khusus meladeni bule australia, Charles bule eropah sedangkan Muluk mengkhususkan diri pada kuda putih dari rusia.

Tebal: 125 hal.

Harga: Rp 35.000

Pesanan: w.budiartha@gmail.com

No comments:

Post a Comment