Wednesday, June 22, 2011

ORCHID

Anggrek siapa yang tak terpesona dengan keindahannya. Warnanya yang menggemaskan membuat siapa saja langsung jatuh cinta. Maka kalau kemudian banyak yang memelihara anggrek itu penyebabnya karena banyak yang menyukainya. Di Bali Anggrek sudah terkenal sejak jaman penjajahan Belanda di tahun 30an. Mereka membawa anggrek jenis dendrobium dan membiakkannya di puri puri yang ada di Bali.

Rakyat jelata yang melihat puri jadi indah dengan hiasan anggrek yang menawan tak mau kalah mereka berburu anggrek ke hutan, menemukan anggrek jenis nyingnying, anggrek macan yang belang dan anggrek bulan yang kelopak bunganya mirip bulan purnama.

Perkembangan berikutnya adalah anggrek menjadi komoditi andalan. Karena banyak hotel memerlukan anggrek untuk hiasan di lobby bahkan kadang di kamar. Dipilih karena anggrek perlu waktu sebulan untuk layu. Bandingkan dengan mawar yang layunya sehari, atau pacar cina yang layu dalam hitungan jam saja.

Maka bila kemudian bertebaran pembudi daya anggrek di sekitar Renon, Kerobokan dan Canggu itu karena kebutuhannya memang tinggi. Mereka mendapatkan bibit botolan dari Malang. Harganya sekitar Rp 75.000 perbotol. Dia berisikan tak kurang dari 20 bibit mungil setinggi 10 centimeter. Kemudian petani mengeluarkannya dengan penjepit dari bambu. Menggabungkannya dalam ember besar yang diberi mos. Anggrek perlu tumbuh selama 3 bulan dalam ember besar itu. Barulah kemudian dipindahkan ke pot yang ukuran 20 centimeter dan dipelihara selama 6 bulan lagi untuk bisa berbunga seperti yang bisa kita saksikan di rumang anggrek.

Tebal: 120 hal.

Harga: Rp 30.000

Pesanan: w.budiartha@gmail.com

No comments:

Post a Comment