
Suatu malam yang bukan malam minggu, saat berdiri mengagumi bom Bali altar yang berisikan nama nama korban meninggal akibat ulah Amrosi dan kawan kawan. Saya kaget bukan kepalang. Karena malam itu saya tiba tiba dijawil pemuda tanggung yang mengenalkan dirinya dengan nama Ketut. Dia secara berbisik menawarkan pada saya untuk sekedar santai selama satu jam dengan gadis belia. Usianya 21 tahun, taripnya hanya Rp 500.000.
Saya jumawa karena sejam sebelumnya saat sibuk di salah satu warnet dekat situ juga pegawai warnet juga berbisik yang sama, hanya saja yang sebelum ini umurnya 22 taripnya Rp 400. Karena saya mesti buru buru ke pasar untuk belanja sayur dan buah tawaran yang agak aneh itu saya sisihkan dulu. Tapi seminggu kemudian saya bersama Bagus, Terens dan Nino sengaja berburu.
Yang kami dapati adalah sex terselubung macam yang ditawarkan Ketut seminggu lalu memang benar adanya. Malam itu kami sengaja duduk di trotoar dekat Ketut kerap mangkal, hanya dalam waktu 10 menit kami sudah dihampiri. Ketut tak mengenali saya karena malam itu saya mengenakan topi.
Terens yang dari Michigan memilih salah satu gadis yang ditawarkan oleh Ketut, taripnya ternyata bisa turun menjadi Rp 400.000. Tempatnya bolehlah di penginapan Terens yang kala itu bermalam di Lumbung Sari. Kami berpisah dan membagi cerita keesokan malamnya.
Begitulah Bali walau yang dijadikan ikon utama kepariwisataannya adalah budaya, tapi yang namanya sex liar murahan macam itu berseliweran sepanjang malam di kawasan lampu merah di Kuta. Mereka biasanya tinggal di kos kosan kecil. Datang dari beberapa daerah di Jawa Timur seperti Jember dan Lumajang. Bahasa Inggrisnya sekedar you down an me up. Istilah untuk goyang sampai pagi mungkin.
Tebal: 125 hal.
Harga: Rp 35.000
Pesanan: w.budiartha@gmail.com
No comments:
Post a Comment