Wednesday, June 22, 2011

BALI FARMER

Bertani bagi masyarakat Bali sudah menjadi pekerjaan turunan,terbukti mereka memiliki sistim pengairan bernama subak. Yakni setiap petani mesti menjadi anggota subak agar mendapatkan aliran air yang melimpah dari masa tabur benih sampai menjelang panen. Sumbernya bisa bendungan, sungai, dam atau caruban dekat lokasi tanah persawahan mereka. Sistimnya rumit, mulai dari bagaimana mereka mesti mengatus jelinjingan atau parit paling kecil yang langsung masuk ke sawah masing masing. Sampai kepada mengatur munduk yakni aliran air langsung dari dam atau sungai.

Mereka juga memikirkan kemanakah akan dibuang air yang tidak digunakan yang disebut dengan teba. Belum lagi mereka disibukkan juga dengan cara memilih bibit yang baik, memulai menebar benih ada banten dan sesajennya sendiri. Dan setiap anggota subak harus mengikuti pewarah warah atau petunjun dari Pekaseh yakni pemimpin subak.

Sederhana tapi sebenarnya sangat rumit sekaligus juga canggih. Petani di Bali menyebut bertani sebagai darah dagingnya. Mereka menanampadi tidak sekedar menanam rumput tapi jjuga menggunakan hati dan perasaan.

Maka suatu ketika bila padi menguning bukan karena siap panen tapi karena kurang air atau serangan wereng. Mereka akan memperlakukan sawahnya seperti orang sakit. Datang kepekaseh meminta petuntuk banten apakah yang harus disiapkan untuk mengobati padi yang sakit.

Atau bula ada serbuan hama tikus, mereka akan mendatangi seluruh sumber mata air untuk meminta tirta suci untuk dipercikkan di tengah persawahan mereka. Dan bila semuanya belumberhasil mereka akan melakukan ngaben tikus yakni melakukan upacara pembakaran tikus seperti layaknya melakukan pembakaran mayat yang terkenal. Bahkan ngaben tikus biasanya dihadiri oleh bupati dan camat.

Tebal: 125 hal.

Harga: Rp 35.000

Pesanan: w.budiartha@gmail.com

No comments:

Post a Comment