Wednesday, June 22, 2011

BULE DI MATA BALI



Bule masuk Bali secara sporadis sejak Soeharto berkuasa di tahun 70an. Kuta didominasi bule Australia yang datang untuk main surfing. Cuti seminggu di Bali jauh lebih murah ketimbang mereka liburan di Perth misalnya. Ini sudah termasuk ongkos pesawat penginapan makan dan bersenang senang dengan perempuan muda. Maka bagi mereka Kuta menjadi halaman kedua mereka.
Ketika itu mereka menginap di pension dan penginapan yang menyatu dengan rumah penduduk sewa murah dan di pantai Kuta mereka masih bisa bertelanjang jalan jalan di pantai yang masih bersih. Kemudian investor melirik Kuta karena tahun 74 diselenggarakan PATA Confrense yang mengundang banyak pemilik modal untuk menanam uangnya di sini. Tumbuhlah hotel bintang 5 dengan sewa meningkat 100 kali lipat. Yang datang juga bukan bule bulukan lagi tapi yang berdasi dan berpakaian houte coutour. Artis dunia juga bermunculan. Bule kemudian menjadi dewa baru dan merubah segalanya. Mulai dari dianggap orang yang lebih bermartabat lebih berpendidikan dan lebih pintar. Orang Bali kemudian menjadikan bule sebagai sumber penghidupan disegala lini.
Di sawah karena bule berani membeli sawah dengan harga ratusan juta. Di pantai karena bule berjemur sepanjang pantai dengan membayar mahal minuman dingin sampai bikini dengan harga lumayan tinggi. Di restorant mereka disambut dengan senyum hangat karena berani membeli teh pahit sampai Rp 20.000 pergelasnya. Bule menjadi ikon baru bagi sebagian besar penduduk Bali.
Mereka membangun guest house yang melengkapinya dengan antena penangkap siaran satelite, kolam renang sampai lobby yang setiap hari harus berganti kembangnya dengan jepun dan mawar segar.
Tebal: 112 hal.
Harga: Rp 30.000
Pesanan: w.budiartha@gmail.com

No comments:

Post a Comment