Sebelum memulai ritual mereka akan melakukan yang namanya gayatri mantram. Bisa dirumahnya atau di tempat upacara. Mantramnya terdiri dari bait bait berbahasa sansekerta yang bila diartikan bisa bermakna, maafkanlah fikiran perkataan dan perbuatan hamba. Kemudian mereka akan memulai ritual.
Bisa mengupacarai bayu yang turun tanah, remaja yang akil balig. Atau mereka yang potong gigi yang ulang tahun. Ada juga piodalan di pura atau pemelaspasan tempat wantilan. Dalam upacara ngaben pemangku juga dibutuhkan, untuk memandu keluarga yang sedang diliputi kesedihan untuk melupakan sejenak duka mereka.
Pemangku akan memanjatkan doa agar arwah mereka yang meninggal diterima dengan baik disisi sang pencipta, dan mereka yang ditinggalkan tidak melakukan hal yang musykil misalnya menjual warisan atau bertengkar satu sama lain.
Begitu penting peranan pemangku, mereka dianggap orang suci seperti pandita juga. Walaupun upacara yang dilewati tidak sampai madiksa hanya sampai pada tahapan dwijati saja. Disisi lain pemangku juga bisa dijadikan panutan. Karena prilaku mereka yang harus mencerminkan bagaimana keberadaan tuhan mereka. Seperti matahari menyinari seluruh isi dunia, seperti bulan yang menerangi malam. Seperti angin yang menyelusup sampai keruangan paling sulit dan seperti air yang selalu datar permukaanya di tempat sesulit apapun. Bisa terlihat tidak seperti orang kaya ditempat orang miskin dan bisa terlihat tidak miskin ditempat orang kaya.
Tebal: 100 hal.
Harga: Rp 30.000
Pesanan: w.budiartha@gmail.com
No comments:
Post a Comment